PLEASE WAIT
Thank you
for registering with us
OK
FORGOT PASSWORD
BACK
SIGNUP
  
Date of Birth
/
/
Upload Your Photo
Photo file maximum 2M
Browse
I agree with Terms & Condition
BACK
LOGIN
Forgot Your Password?
or login with
Don't have an Account?
SHARE THIS ARTICLE
Kurangnya Kontrol Glukosa Tingkatkan Risiko Diabetes Tipe 2 - HEALTHY LIVING - SOYLUTION - HOME
HEALTHY LIVING
11 SEPTEMBER 2016

Kurangnya Kontrol Glukosa Tingkatkan Risiko Diabetes Tipe 2

Ada risiko serius dalam jangka panjang jika kita terbiasa mengonsumsi karbohidrat berlebih. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa peningkatan ekstrem glukosa dan insulin dalam darah dapat menyebabkan kurangnya kontrol glukosa dan meningkatkan risiko seseorang terkena diabetes mellitus tipe 2.

Peneliti dari University of Missouri telah menemukan bahwa ketika wanita mengonsumsi sarapan berprotein tinggi, mereka dapat mempertahankan kontrol  glukosa dan insulin yang lebih baik daripada mereka yang mengonsumsi makanan rendah protein atau malah tidak mengandung protein sama sekali.

Pada individu yang sehat, jumlah glukosa atau gula di dalam darah meningkat setelah makan. Ketika glukosa meningkat, kadar insulin meningkat untuk membawa glukosa ke seluruh tubuh.

"Bagi perempuan, makan lebih banyak protein di pagi hari menguntungkan karena dapat mempengaruhi kadar glukosa dan insulin mereka," kata Heather Leidy, asisten profesor nutrisi dan fisiologi olahraga. "Jika Anda makan sehat sekarang dan mengonsumsi makanan yang membantu mengontrol kadar glukosa, ini berarti Anda telah melindungi diri dari diabetes di masa depan."

Kevin Maki, dari Biofortis Clinical Research, telah menyelesaikan studi bekerja sama dengan Leidy. Mereka mempelajari wanita berusia berusia 18-55 tahun yang mengonsumsi salah satu dari tiga makanan yang berbeda atau hanya air selama empat hari berturut-turut. Makanan yang diuji mengandung kurang dari 300 kalori per porsi dan memiliki lemak dan serat yang sama.

Namun, makanan bervariasi dalam jumlah proteinnya. Pancake dengan tiga gram protein, sosis dan telur untuk sarapan mengandung 30 gram protein, atau sarapan sosis dan telur yang mengandung protein 39 gram. Peneliti memonitor jumlah glukosa dan insulin dalam darah partisipan selama empat jam setelah mereka makan sarapan.

"Sarapan yang kaya protein menyebabkan lonjakan lebih rendah glukosa dan insulin setelah makan dibandingkan dengan makanan rendah protein namun tinggi karbohidrat,” kata Maki.

"Selain itu, sarapan tinggi protein yang mengandung 39 gram protein menyebabkan lonjakan setelah-makan yang lebih rendah dibandingkan dengan sarapan protein tinggi yang mengandung 30 gram protein,” imbuhnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa, untuk wanita sehat, konsumsi sarapan kaya protein mengarah kepada kontrol glukosa yang lebih baik di pagi hari dibandingkan dengan konsumsi makanan berprotein rendah, kata Leidy.

"Karena kebanyakan wanita Amerika mengonsumsi hanya sekitar 10-15 gram protein selama sarapan, 30-39 gram mungkin tampak seperti menantang perubahan pola makan," kata Leidy.

Leidy mengatakan penelitian ini memberikan model yang baik untuk awal pengujian pengaruh sarapan tinggi protein pada respons glukosa dan insulin karena hanya wanita sehat yang tidak menyandang diabetes dengan kontrol glukosa yang tepat dilibatkan dalam penelitian tersebut.

Berdasarkan temuan penelitian ini, para peneliti berharap bahwa konsumsi sarapan yang kaya protein juga akan menguntungkan individu dengan kondisi pra-diabetes, meskipun penelitian masa depan diperlukan untuk mengonfirmasi hasilnya.

Penelitian bertajuk "Acute Effects of Higher Protein, Sausage and Egg-based Convenience Breakfast Meals on Postprandial Glucose Homeostasis in Healthy, Premenopausal Women," telah dipresentasikan pada pertemuan Experimental Biology di San Diego, California, pada tahun 2014.

Nah, protein terbukti meningkatkan rasa kenyang lebih lama. Aada cara gampang lho untuk mengurangi keinginan makan karbohidrat berlebih ini, SOYJOY Lovers. Caranya adalah dengan mengonsumsi SOYJOY dua jam sebelum makan.

Mengapa harus mengurangi asupan karbo? Ada alasan mengapa kita harus mengurangi karbo, yakni karena karbo mengandung gula. Nah jika tubuh mencerna gula terlalu banyak maka kerja insulin akan lebih capai. Gula yang berlebih akan ditimbun menjadi lemak yang menyebabkan obesitas dan pada akhirnya bisa memicu diabetes mellitus tipe 2.

Mengonsumsi SOYJOY di antara waktu makan diyakini dapat mengurangi hasrat makan karbohidrat lebih banyak, karena protein dalam SOYJOY membuat kenyang lebih lama.

Nah, mulailah kebiasaan pola makan sehat dengan mengonsumsi SOYJOY dua jam sebelum makan agar nafsu makan kamu terkendali.

 

Referensi: Science Daily

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2014/04/140429162110.htm?trendmd-shared=0