PLEASE WAIT
Thank you
for registering with us
OK
FORGOT PASSWORD
BACK
SIGNUP
  
Date of Birth
/
/
Upload Your Photo
Photo file maximum 2M
Browse
I agree with Terms & Condition
BACK
LOGIN
Forgot Your Password?
or login with
Don't have an Account?
SHARE THIS ARTICLE
Cut Carbo : Kurangi Asupan Karbohidrat Berlebih dengan SOYJOY 2 Jam Sebelum Makan - HEALTHY LIVING - SOYLUTION - HOME
HEALTHY LIVING
02 SEPTEMBER 2016

Cut Carbo : Kurangi Asupan Karbohidrat Berlebih dengan SOYJOY 2 Jam Sebelum Makan

Orang Indonesia hampir tak bisa dipisahkan dari nasi, khususnya nasi putih, sebagai sumber karbohidrat. Tak mengherankan jika konsumsi karbohidrat penduduk Indonesia cenderung tinggi dan berlebihan.

Konsumsi nasi nasional terus menunjukkan kenaikan. Data terakhir menunjukkan, setiap orang jika dirata-rata mampu mengonsumsi nasi hingga 109 kg per tahun. Ini jumlah yang fantastis karena tercatat dua atau tiga kali lipat dari berat badan.

Kelebihan konsumsi karbohidrat ini – sayangnya banyak yang tak menyadarinya - bisa memicu diabetes mellitus tipe 2. “Kelebihan konsumsi karbohidrat, pola makan yang tidak seimbang, jarang bergerak bisa mencetuskan obesitas yang menuntun pada terjadinya diabetes,” kata Seala Septiani, nutrisionis, dalam acara diskusi media “Cegah Diabetes dengan Diet Karbohidrat” di Jakarta, baru-baru ini.

Seala menjelaskan, karbohirdrat, agar bisa masuk ke dalam sel tubuh harus dipecah menjadi gula sederhana, yaitu glukosa, yang kerap disebut dengan istilah gula darah.

“Jika mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah banyak, tubuh akan keberatan memetabolisme gula berlebih ini sehingga memicu diabetes,” jelas Seala.

Konsumsi karbohidrat berlebihan dalam sekali makan menyebabkan tubuh memproduksi insulin dalam jumlah yang besar. Inilah yang membuat insulin mengubah karbohidrat yang masuk menjadi gula darah dalam jumlah yang besar pula.

Nah, dengan kapasitas dan kebutuhan tubuh yang terbatas, banyak dari gula dalam darah tersebut yang akhirnya tak terpakai, sehingga langsung tersimpan dalam sel lemak.

Dengan pola konsumsi karbohidrat berlebih, tidaklah mengherankan jika jumlah pengidap diabetes di Indonesia juga mengalami peningkatan.

Untuk itu, penting bagi kita mengurangi asupan karbohidrat. Mengurangi, namun bukan berarti meniadakan sama sekali.

Seala mengakui, masyarakat Indonesia masih belum terlalu peduli dengan asupan karbohidrat sehari-hari.

Idealnya, untuk  orang dengan berat badan normal membutuhkan energi 2000 kcal dan kebutuhan karbohidratnya 300 gram. “Namun  faktanya setiap hari orang di Indonesia mengonsumsi karbohidrat lebih dari ukuran normalnya,” ujar  Seala.

Bagi mereka dengan berat badan berlebih alias gemuk, mesti membatasi kebutuhan kalorinya 1500 kcal, dengan karbohidrat tak lebih dari 180 gram.

Sebagai gambaran, dalam satu mangkuk kecil nasi berukuran 200 gram kira-kira terdapat 80 gram karbohidrat. Seringkali orang tidak sadar dengan asupan karbohidratnya.

Contoh paling gampang, kita sering ‘mencampur’ aneka sumber karbohidrat dalam satu piring di saat bersamaan. Makan nasi, lauk mengandung tepung, ditambah minuman manis. “Semua ada karbohidratnya," urai Sela.

Dengan kebiasaan tersebut, tentu asupan kalorinya akan berlebihan dari kebutuhan. Bila tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang tinggi, tak heran jika akhirnya kegemukan.

"Konsumsi karbohidrat berlebih adalah salah satu penyebab obesitas, karena di dalam tubuh kelebihan gula ini akan disimpan sebagai lemak," tandas Seala yang banyak meneliti tentang kegemukan.

Diet Rendah Karbohidrat Lebih Efektif Turunkan Berat Badan

Seala lebih lanjut menambahkan, menurut penelitian diet rendah  karbohidrat  terbukti lebih efektif mengurangi berat badan dibandingkan dengan diet rendah lemak.

Penelitian menunjukkan, tetap mengonsumsi karbohidrat dengan kandungan serat tinggi dapat menurunkan berat badan secara bermakna sampai dengan dua tahun.

Sedangkan penelitian yang dilakukan di New Zealand dan Amerika Serikat menunjukkan diet rendah karbohidrat pada orang dengan kelebihan berat badan berhasil turunkan berat  badan disbanding diet lainnya setelah enam bulan.

Seala menekankan, kunci menurunkan berat badan bukan menghindari karbohidrat sama sekali tetapi memilih jenis karbohidrat yang tepat.

“Pilih karbohidrat yang mengandung serat tinggi, misalnya kacang kedelai dan kacang-kacangan, sayur, dan buah,” kata dia seraya menambahkan umbi-umbian juga mengandung serat cukup tinggi.

Namun masih ada orang yang tidak bisa berpisah dengan nasi. Untuk menyiasati hal ini, tetap boleh makan nasi, namun kurangi porsinya, atau ubahlah dengan nasi merah yang memiliki indeks glikemik (GI) medium.

Seala memaklumi ‘ketakutan’ sebagian orang terkait pengurangan porsi nasi akan membuatnya sulit berpikir atau bahkan kelaparan. Hal ini bisa disiasati dengan dengan mengonsumsi camilan tinggi serat kira-kira dua jam sebelum makan.

Konsumsi camilan tinggi serat ini bisa menjaga kadar gula darah tetap stabil dan nafsu makan tidak berlebih saat mengonsumsi karbohidrat di waktu makan besar.

Saat mengonsumsi makanan, ahli gizi ini menyarankan agar kita peduli dengan nilai Indeks Glikemik (GI) yang dikandung makanan tersebut, apakah masuk kategori low GI, medium GI atau high GI. Makanan yang masuk kategori low GI antara lain kedelai, buah, sayur, dan susu. Sedangkan kategori GI sedang misalnya roti, mie, juga nasi merah. Makanan yang masuk golongan high GI antara lain minuman bubble, gula, madu, es teh, nasi putih.

Terkait dengan konsumsi makanan tinggi serat dua jam sebelum makan besar, Dafina Amalia, Product Manager SOYJOY mengatakan, bisa dengan makan satu bar SOYJOY. Mengapa? SOYJOY yang terbuat dari kedelai ini merupakan salah satu makanan yang kaya dengan serat dan memiliki kadar GI rendah.

Terlebih lagi, kedelai yang sudah terbukti low GI ini dapat menjaga gula darah dan nafsu makan yang akan membantu mengontrol porsi karbohidrat harian.

Penelitian menunjukkan konsumsi SOYJOY 2 jam sebelum makan terbukti mengontrol nafsu makan dan mencegah kita mengonsumsi makanan berlebih saat jam makan utama tiba.