History
Dari ‘Kacang Sang Kaisar’ sampai sebutan ‘Tuna dari Pegunungan’
Pada 2853 SM di Cina, Kaisar Sheng-Nung yang merupakan “Bapak Pertanian” mengajarkan rakyatnya bagaimana mengolah biji-bijian sebagai makanan untuk menghindari membunuh binatang. Beliau lalu menyatakan ‘lima tanaman suci’ yaitu kedelai, beras, gandum, barley dan millet, sebagai makanan dan obat Cina.

Semenjak saat itu praktek konsumsi kedelai mulai menyebar ke seluruh dunia. Dibudidayakan menjadi tanaman pangan pada abad 17 – 11 SM di bagian timur Cina dan sekitar abad pertama Age of Discovery (abad 15 – 16 M) mulai diperkenalkan ke beberapa negara seperti Jepang, Indonesia, Filipina, Vietnam, Thailand, Malaysia, Myanmar, Nepal dan India – yang disebabkan oleh pembentukan rute perdagangan laut dan darat.

Di Jepang, para pendeta Budha mengambil alih kekuasaan pada abad ke-7. Mereka meyakini bahwa diet makanan nabati baik untuk jiwa. Kedelai dipilih karena mampu mengambil berbagai bentuk, tekstur dan menyerap banyak rasa. Para koki pun menjadi sangat kreatif dalam menciptakan masakan serta mengembangkan ratusan resep yang masih dipersiapkan di Jepang sampai hari ini. Ratusan tahun kemudian, karena popularitasnya meningkat sampai ke kalangan petinggi ditambah kandungan proteinnya yang menakjubkan, kedelai pun dinamakan Yama-no-maguro atau ‘tuna of the mountains” (Tuna dari Pegunungan).
From nothing to something
Kedelai pertama tiba di Amerika tahun 1800-an, awalnya hanya sebagai pemberat di atas laut. Sekitar tahun 1879 beberapa petani mulai menanamnya sebagai makanan ternak. Barulah sekitar 1904 seorang kimiawan terkenal Amerika, GW Carver menemukan sumber protein dan minyak yang berharga dalam kedelai. Namun salah satu kontribusinya yang paling berharga adalah mengenai kandungan Nitrogen kedelai yang tinggi dapat mengganti kekurangan nitrogen dalam tanah yang sering abis akibat tanaman kapas.

Tahun 1930 Amerika mengalami ‘Dust Bowl Days’ dimana terjadi depresi besar akibat badai debu yang menciptakan kekeringan juga menyerang tanah sehingga tanaman apapun tak dapat tumbuh. Seorang petani secara putus asa menanam kedelai dan ternyata hasilnya sebaliknya. Bukan hanya ia dapat tumbuh di tanah yang tidak subur tapi kandungan nitrogen dalam akarnya justru dapat mengisi kekeringan tanah. Sekarang, negara Amerika Serikat menjadi pemegang 55% produksi kedelai dunia dengan lebih dari sepertiganya diekspor.
Sejarah kedelai di Nusantara
Publikasi ‘Herbarium Amboinense’ terbitan 1673 pertama kali mengungkap sejarah perkembangan kedelai di Indonesia. Naskah yang ditulis oleh Rumphius itu menyebutkan bahwa kedelai ditanam di Amboina (sekarang bernama Ambon). Penyebarannya semakin luas setelah Jung-hun melakukan budi daya pada tahun 1853 di kawasan Gunung Gamping, Jawa Tengah. Selanjutnya pada 1855 berkembang di daerah Bandung.

Istilah ‘tahu’ muncul beberapa waktu setelah penyebarannya di Cina. Seorang professor pengajar sejarah Asia tenggara di Paris yang juga penulis Nusa Jawa : Silang Budaya, Danys Lombard menyebutkan bahwa istilah ‘tahu’ muncul dalam daftar hidangan di pesta makan pada pertulisan Jawa Kuno dari Jawa Timur berangka 902 Masehi (824 saka). Sedangkan istilah ‘tempe’ berasal dari kata nusantara tape, yang mengandung arti fermentasi.
Sumber:
• soyjoy.com
• bataviase.co.id/node/371510
• en.wikipedia.org/wiki/Soybean
• ncsoy.org/ABOUT-SOYBEANS/History-of-Soybeans.aspx